MIU Login

Berbekal Hafalan 30 Juz, Muhammad Hafidz Ilham Rosyadi Raih Predikat Mahasiswa Berprestasi Tahfidz pada Yudisium UIN Malang 2026

MALANG – Perjalanan panjang Muhammad Hafidz Ilham Rosyadi dalam membersamai Al-Qur’an sejak masa remaja akhirnya mengantarkannya pada sebuah pencapaian yang istimewa. Berkat hafalan 30 juz yang telah diselesaikannya beserta sanad qiraat ‘Ashim riwayat Hafs Thariq Syathibiyah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi kategori tahfidz 30 juz pada pelaksanaan yudisium yang digelar pada 17 Juni 2026.

Mahasiswa asal Surabaya yang kini menetap di Pondok Pesantren Darul Mahamid, Arjosari, Malang, tersebut memulai perjalanan menghafal Al-Qur’an sejak tahun 2015 ketika menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Remaja, Kajeksan, Kudus. Perjalanannya kemudian berlanjut dengan talaqqi dan tahfidz kepada KH. A. Dzulhilmi Ghozali di Ampel, Surabaya, sebelum akhirnya menyempurnakan hafalan di Pondok Pesantren Huffadz Darul Mahamid, Malang.

Setelah melalui proses selama kurang lebih tiga hingga empat tahun, Hafidz dinyatakan khatam bil ghoib pada awal tahun 2022. Di bawah bimbingan Prof. Dr. KH. Nurul Murtadho, M.Pd., ia memperoleh sanad qiraat ‘Ashim riwayat Hafs Thariq Syathibiyah sebagai bagian dari tradisi transmisi keilmuan Al-Qur’an yang dijaga secara turun-temurun.

Bagi Hafidz, perjalanan menjadi seorang hafidz bukanlah perjalanan yang selalu mudah. Selama bertahun-tahun, ia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari hafalan yang terasa stagnan hingga keharusan mengulang hafalan yang belum benar-benar kuat. Bahkan, tidak sedikit hal yang harus ia kesampingkan demi menjaga fokus terhadap Al-Qur’an.

“Yang membuat saya tetap bertahan adalah niat yang terus diperbarui bahwa ini bukan sekadar target pribadi, melainkan amanah keilmuan yang harus dipertanggungjawabkan,” ungkapnya.

Berbeda dengan sebagian mahasiswa yang menyelesaikan hafalan di tengah masa perkuliahan, Hafidz memilih menuntaskan hafalan 30 juz terlebih dahulu sebelum memasuki jenjang S1 Pendidikan Agama Islam UIN Malang pada pertengahan tahun 2022. Baginya, Al-Qur’an menjadi fondasi awal dalam menuntut ilmu, sebagaimana tradisi para ulama yang mendahulukan penguasaan Al-Qur’an sebelum mendalami berbagai disiplin keilmuan lainnya.

Meski telah menyelesaikan hafalan, tantangan menjaga hafalan atau muraja’ah tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitasnya sebagai mahasiswa. Di sela kesibukan perkuliahan, ia memanfaatkan waktu perjalanan menuju kelas maupun saat menunggu dosen hadir untuk mengulang hafalan.

Selain aktif dalam kegiatan akademik, Hafidz juga terlibat dalam Hai’ah Tahfidz Qur’an (HTQ) UIN Malang sejak tahun 2022 dan bergabung dalam Majelis Sema’an Al-Qur’an Malang. Lingkungan tersebut, menurutnya, menjadi ruang yang penting untuk saling menjaga semangat dan konsistensi dalam merawat hafalan.

Pencapaian sebagai mahasiswa berprestasi kategori tahfidz 30 juz pada yudisium 17 Juni 2026 menjadi bukti bahwa prestasi akademik dan kecintaan terhadap Al-Qur’an dapat berjalan beriringan. Bagi Hafidz, keberhasilan tersebut bukanlah dua capaian yang berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan yang saling menguatkan.

“Hafalan Al-Qur’an mengajarkan disiplin dan kesabaran yang kemudian terbawa dalam ritme belajar di kampus. Sebaliknya, dunia akademik menjadi wadah untuk memperdalam dan mengartikulasikan ilmu yang selama ini dijaga dalam hafalan,” jelasnya.

Melalui pengalamannya, Hafidz berharap mahasiswa yang sedang berjuang menghafal Al-Qur’an tidak berhenti pada titik khatam semata. Menurutnya, muraja’ah harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari agar Al-Qur’an benar-benar membentuk karakter dan arah hidup seseorang.

“Jangan berhenti ketika sudah khatam. Jadikan muraja’ah sebagai napas harian. Sebab, sebesar kita menjaga Al-Qur’an, sebesar itu pula hidup kita akan dijaga oleh Al-Qur’an,” pesannya.

Penghargaan yang diterimanya pada yudisium tahun 2026 menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an dan dunia akademik bukanlah dua hal yang saling dipertentangkan. Keduanya justru dapat berjalan berdampingan dan saling menyempurnakan, selama keduanya diletakkan pada niat dan tujuan yang benar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait