MIU Login

Soroti Kepemimpinan Strategis dan Tantangan Era Digital, Kuliah Tamu Internasional Dorong Efektivitas dan Inovasi Pendidikan Islam

MALANG — Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar acara Kuliah Tamu (Guest Lecture) Internasional pada Rabu, 22 September 2026, bertempat di Auditorium Lantai 2 Gedung Microteaching UIN Malang. Kegiatan ini menghadirkan dua pakar manajemen dan kepemimpinan pendidikan, serta diikuti oleh para mahasiswa UIN Malang dan delegasi mahasiswa dari Universiti Malaya (UM), Malaysia.

Acara dipandu secara interaktif oleh Nur Fitria Anggrisia, M.Pd selaku moderator. Diskusi akademis ini mengangkat tema “Reimagining Islamic Education in the Digital Era: Challenges, Innovation, and Future Competencies of Islamic Educators” untuk membedah isu-isu krusial, mulai dari efektivitas kepemimpinan sekolah hingga strategi menghadapi dinamika teknologi di era digital.

Sesi pemaparan menghadirkan Dr. Hamdan Chehdimae dari Universiti Malaya, yang menyampaikan riset kuantitatif mengenai peran kepemimpinan kepala sekolah di sekolah menengah swasta Islam di wilayah Thailand Selatan (Pattani, Yala, dan Narathiwat). Dalam presentasinya yang bertajuk “Principals’ Strategic Leadership Practices, Quality Assurance and Academic Optimism as Determinants of School Effectiveness,” ia menekankan bahwa praktik kepemimpinan strategis tidak secara langsung memengaruhi efektivitas sekolah, melainkan melalui dua jalur perantara (mediating pathways): Penjaminan Mutu (Quality Assurance) dan Optimisme Akademik (Academic Optimism).

“Kepemimpinan yang efektif memerlukan penerjemahan strategi ke dalam rutinitas formal penjaminan mutu, serta pembangunan budaya optimisme akademik yang solid di antara para pengajar dan staf,” jelasnya.

Sementara itu, Prof. Abdul Malik Karim Amrullah, M.Pd.I, Profesor Manajemen Pendidikan Islam dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, membawakan materi bertema “Education in the Digital Era, Challenges, Innovation, and Future Competences of Islamic Educators.”

Prof. Abdul Malik menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi pendidik saat ini, termasuk tingginya tingkat penetrasi internet di Indonesia serta penurunan attention span (rentang perhatian) generasi muda yang kini hanya berkisar 2 hingga 8 detik. Selain itu, ia memaparkan data perilaku digital madrasah yang menunjukkan pentingnya kemandirian satuan pendidikan dan penggunaan media digital secara bijak.

“Di tengah era post-truth dan banjir informasi, pendidik Islam dituntut untuk berinovasi dan senantiasa menerapkan prinsip tabayyun sesuai ajaran Surah Al-Hujurat ayat 6, guna memastikan kebenaran informasi serta membangun kapasitas digital lembaga secara mandiri,” ungkapnya.

Suasana diskusi semakin dinamis saat masuk pada sesi tanya jawab. Salah satu mahasiswa dari Universiti Malaya menyampaikan ketertarikannya mengenai dinamika serta peran organisasi kemasyarakatan Islam di Indonesia, khususnya Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, yang sempat disinggung dalam pemaparan. Menjawab rasa penasaran tersebut, Prof. Abdul Malik memberikan penjelasan komprehensif mengenai bagaimana kontribusi besar kedua ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut dalam membangun basis pendidikan, moderasi beragama, serta keberagaman yang harmonis di Indonesia.

Melalui forum ilmiah ini, diharapkan para mahasiswa UIN Malang maupun Universiti Malaya dapat memperluas wawasan kepemimpinan adaptif, penjaminan mutu yang terukur, serta pemahaman keislaman dan kompetensi digital yang relevan di era modern.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait