PAI UIN MALANG — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) kini tidak lagi sekadar menjadi tren, melainkan kebutuhan mendesak bagi dunia pendidikan. Menangkap peluang tersebut, Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar agenda Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Penggunaan AI untuk Pembelajaran” di Yayasan Miftahush Shibyan, Bantur, Kabupaten Malang, pada Selasa, 21 Juli 2026.


Sesi pelatihan yang berlangsung pukul 09.20 hingga 10.20 WIB ini menghadirkan pakar materi Benny Afwadzi, M.Hum., serta dipandu oleh moderator Drs. A. Zuhdi, M.Ag. Kegiatan yang mengangkat subtema “Mengoptimalkan Pembelajaran Dengan AI dan Prompt yang Efektif” tersebut dibawakan dengan pendekatan interaktif yang langsung memicu antusiasme tinggi dari para peserta.
Dalam pemaarannya, Benny Afwadzi menekankan bahwa paradigma utama integrasi teknologi di kelas bukanlah tentang AI yang menggantikan peran pendidik, melainkan tentang adaptabilitas guru itu sendiri di era digital. Beliau mengibaratkan AI generatif sebagai asisten cerdas yang bertugas memprediksi dan mengolah pola data, di mana tingkat akurasi serta relevansi hasilnya sangat bergantung pada kecermatan perintah (prompt) yang diberikan oleh guru. Tanpa instruksi yang spesifik, AI hanya akan menghasilkan output generik yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan murid di lapangan.
Para guru diajak secara langsung membedah lima formula krusial dalam menyusun prompt yang efektif, yaitu penentuan peran (role), penjelasan konteks kurikulum, penetapan tugas spesifik, penentuan format output, hingga pemberian contoh konkret. Melalui penguasaan teknik ini, tugas-tugas rumit seperti penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), pembuatan soal berdiferensiasi untuk berbagai tingkat kemampuan siswa, hingga perancangan rubrik penilaian berbasis kriteria objektif dapat diselesaikan dalam hitungan menit.
Meski menawarkan efisiensi tinggi, PAI UIN Malang tetap menggarisbawahi pentingnya kacamata kritis dari para pendidik. Mengingat sistem AI masih memiliki potensi kekeliruan atau halusinasi data, guru ditegaskan untuk selalu memegang kendali penuh sebagai validator utama. Sentuhan profesional, empati, serta nilai-nilai kearifan lokal tetap menjadi fondasi utama pembelajaran yang tidak dapat digantikan oleh mesin mana pun. Melalui sesi praktik langsung ini, para pendidik di Yayasan Miftahush Shibyan Bantur kini siap melangkah menjadi fasilitator pembelajaran digital yang lebih adaptif, efisien, dan relevan dengan tantangan zaman.






